Breaking News
Loading...

Membongkar Kedok Syiah: Dajjal Keturunan Fatimah dan Penundaan Agama yang Nyata




Oleh: Zulkarnain Elmadury

(Dai, Penulis, dan YouTuber Muhammadiyah; Aktif dalam Dakwah Islam di berbagai daerah Indonesia, termasuk sebagai Mantan Dai Transmigrasi dan Mantan Dai Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah. Ketua PRM Jaticempaka Pondok Gede, Ketua Majelis Tarjih PCM Pondok Melati)

Mukadimah

Syiah sejak lama dikenal dengan klaimnya sebagai pecinta Ahlul Bait. Namun kenyataannya, doktrin-doktrin mereka menyimpan kontradiksi yang sangat mencolok. Salah satunya adalah riwayat-riwayat yang mereka sandarkan kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib tentang keluarnya Dajjal dari keturunan Fathimah. Bukankah ini justru bentuk nyata dari upaya mendiskreditkan kemuliaan keluarga Nabi? Jika bukan makar terhadap Islam dari dalam, lalu apa lagi?

1. Dajjal dari Keturunan Fathimah? Fitnah Berbaju Riwayat

Dalam salah satu riwayat yang dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Ali, disebutkan:

 "Dan hati-hatilah kalian terhadap para pendusta dari keturunan Fathimah, karena dari keturunan Fathimah akan ada para pendusta. Akan keluar seorang pendusta dari daerah Dajlah, Bashrah, dia bukan dariku, dan dia adalah pendahulu dari semua para pendusta."

Riwayat ini—yang beredar di lingkungan Syiah dan sebagian literatur fitan—membawa tuduhan mengerikan: bahwa para dajjal akan muncul dari keturunan Fathimah. Padahal, Fathimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha adalah wanita suci, putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ibu dari Hasan dan Husain, pemuka pemuda surga.

Menisbatkan kemunculan Dajjal dari keturunan beliau sama saja dengan memukul kehormatan Nabi secara tidak langsung. Ini bukan sekadar penyimpangan, melainkan bentuk penundaan agama (tasywīh ad-dīn) yang sangat licik.

2. Propaganda Mahdawiyah dan Pengkultusan Keturunan

Syiah menanamkan keyakinan bahwa hanya dari garis keturunan Husain-lah datang “al-Mahdi al-Muntazhar”. Mereka membangun doktrin wilayah dan imamah berdasarkan garis darah, bukan kualitas iman dan keteladanan. Tapi dalam saat yang sama, mereka juga menebar tuduhan bahwa sebelum kemunculan Mahdi, akan muncul "Dajjal-dajjal" dari keturunan Fathimah.

Apakah ini tidak paradoks? Mereka memuja garis keturunan Fathimah, tetapi juga menciptakan monster dari keturunan yang sama? Ini manipulasi psikologis terhadap umat yang tidak kritis.

3. Penolakan Sayyidina ‘Ali terhadap Pencari Kekuasaan

Dalam riwayat lain yang juga bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib:

 "Jangan kalian menuntut perkara ini (kekuasaan), karena tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutnya melainkan akan terbunuh karenanya."

(HR. al-Sulayli dalam Kitab al-Fitan, bab 37)

‘Ali dengan tegas melarang anak keturunannya untuk mengejar kekuasaan sebelum kemunculan al-Mahdi yang sejati. Maka setiap orang dari keturunannya yang keluar membawa bendera kekuasaan sebelum waktunya adalah pelanggar wasiat. Dalam konteks sejarah, banyak pemimpin Syiah yang mengklaim kekuasaan atas nama keturunan Fathimah, padahal mereka termasuk dalam kategori yang diperingatkan Sayyidina ‘Ali.

4. Mewaspadai Penundaan Agama dalam Wujud Kultus Syiah

Penundaan agama adalah ketika agama yang sempurna ini ditangguhkan implementasinya karena menunggu "imam ghaib" atau "pembebas keturunan tertentu". Syiah dengan teologi Mahdi Ghaib-nya justru menjadikan Islam tidak operasional. Dalam kondisi umat yang tertekan, bukannya bangkit dengan al-Qur'an dan Sunnah, malah mereka disuruh menunggu imam yang tidak jelas keberadaannya. Inilah bentuk paling nyata dari ta'thil al-din—penangguhan agama.

Penutup

Syiah bukan sekadar kelompok yang berbeda pendapat. Ia adalah sistem pemikiran yang memalsukan cinta kepada Ahlul Bait untuk merusak Islam dari dalam. Riwayat tentang "dajjal dari keturunan Fathimah" hanyalah satu dari sekian banyak upaya mereka untuk menjatuhkan kehormatan keluarga Nabi secara halus. Dakwah kita hari ini harus membongkar penipuan ini secara ilmiah, tegas, dan argumentatif.

Catatan Kaki

1. Lihat: Kitab al-Fitan karya al-Sulayli, Bab 37.

2. Tafsir atas riwayat tentang keluarnya Dajjal dari Bashrah sering digunakan oleh kelompok Ghulat Syiah untuk membenarkan kemunculan tokoh-tokoh palsu mereka.

3. Konsep Mahdi Ghaib dalam ajaran Syiah bertentangan dengan prinsip dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengutamakan amal dan syariat yang nyata.




************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: