Syiahindonesia.com - Konsep imamah dalam ajaran Syiah merupakan salah satu doktrin utama yang membedakan mereka dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Syiah meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ harus berada di tangan para imam yang maksum dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Mereka mengklaim bahwa imamah adalah bagian dari rukun iman dan merupakan ketetapan dari Allah yang disampaikan melalui Rasulullah ﷺ. Namun, benarkah konsep ini memiliki dasar yang sahih dalam Al-Qur'an dan hadis? Ataukah hanya sebuah penyimpangan dari ajaran Islam yang sebenarnya?
Konsep Imamah dalam Syiah
Syiah percaya bahwa imamah adalah kepemimpinan yang diberikan oleh Allah kepada para imam tertentu dari keturunan Ali dan Fatimah. Mereka meyakini bahwa para imam ini memiliki sifat maksum (terjaga dari dosa) dan memiliki otoritas keagamaan serta politik yang mutlak. Dalam keyakinan Syiah, seorang Muslim tidak dianggap beriman secara sempurna kecuali jika ia mengakui kepemimpinan para imam yang mereka anggap sah.
Mereka berpegang pada ayat berikut sebagai dalil:
"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 67)
Syiah menafsirkan ayat ini sebagai perintah bagi Nabi ﷺ untuk mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelah beliau. Namun, tafsir ini bertentangan dengan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah yang memahami ayat ini sebagai perintah untuk menyampaikan risalah secara umum, bukan tentang penunjukan kepemimpinan khusus.
Bantahan terhadap Konsep Imamah dalam Syiah
1. Tidak Ada Dalil yang Jelas dalam Al-Qur’an
Ahlus Sunnah meyakini bahwa kepemimpinan dalam Islam ditentukan melalui musyawarah, sebagaimana firman Allah ﷻ:
"Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka." (QS. Asy-Syura: 38)
Tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur'an yang secara eksplisit menyebutkan bahwa kepemimpinan umat Islam harus diwariskan kepada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Jika konsep imamah memang bagian dari rukun iman, tentu Allah akan menjelaskannya secara tegas sebagaimana kewajiban shalat dan puasa.
2. Kepemimpinan Abu Bakar sebagai Bukti Musyawarah
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk bermusyawarah mengenai pemimpin pengganti beliau. Hasilnya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terpilih secara aklamasi oleh mayoritas sahabat. Jika benar Nabi ﷺ telah menunjuk Ali sebagai penggantinya, tentu para sahabat yang paling dekat dengan beliau akan mengetahuinya dan tidak perlu melakukan musyawarah.
Hadis berikut menunjukkan keutamaan Abu Bakar sebagai pemimpin setelah Nabi ﷺ:
"Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan kedekatan Nabi ﷺ dengan Abu Bakar, sekaligus menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang paling layak untuk menjadi pemimpin umat.
3. Penyimpangan Syiah dalam Konsep Imam Maksum
Salah satu penyimpangan terbesar dalam aqidah Syiah adalah keyakinan bahwa para imam mereka maksum, yaitu terjaga dari dosa dan kesalahan. Padahal, dalam Islam, tidak ada manusia yang maksum selain para nabi. Allah ﷻ berfirman:
"Maka mohonlah ampunan untuk dosamu dan bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan." (QS. Muhammad: 19)
Ayat ini bahkan menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk beristighfar. Jika nabi saja diperintahkan untuk memohon ampun, bagaimana mungkin ada manusia selain nabi yang diklaim maksum?
4. Kontradiksi dalam Daftar Imam Syiah
Syiah memiliki konsep 12 imam yang mereka yakini sebagai penerus sah Rasulullah ﷺ. Namun, dalam sejarah, terdapat banyak perbedaan dalam penentuan siapa yang layak menjadi imam. Contohnya, sekte Syiah Ismailiyah meyakini bahwa Ismail bin Ja'far adalah imam ketujuh, sementara Syiah Imamiyah meyakini bahwa imam ketujuh adalah Musa al-Kazhim. Perbedaan ini menunjukkan bahwa konsep imamah bukanlah sesuatu yang jelas dan mutlak, melainkan hanya klaim yang dibuat-buat.
5. Imam Mahdi yang Gaib: Mitos atau Fakta?
Syiah meyakini bahwa Imam ke-12, Muhammad al-Mahdi, menghilang dalam kegaiban besar (ghaybah kubra) dan akan muncul kembali sebagai juru selamat di akhir zaman. Namun, tidak ada bukti historis yang kuat mengenai keberadaan Imam Mahdi versi Syiah ini. Bahkan, banyak sejarawan yang menyebutkan bahwa Muhammad al-Mahdi sebenarnya tidak pernah lahir.
Kesimpulan
Dari berbagai bukti yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa konsep imamah dalam Syiah adalah penyimpangan dari ajaran Islam yang sebenarnya. Tidak ada dasar yang jelas dalam Al-Qur'an maupun hadis sahih yang mendukung klaim mereka. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan harus berdasarkan musyawarah dan bukan diwariskan secara turun-temurun kepada keluarga tertentu.
Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami perbedaan mendasar ini agar tidak terjebak dalam ajaran yang menyimpang. Kita harus tetap berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya yang telah dijamin kebenarannya oleh Allah.
Wallahu a'lam bish-shawab.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: